Biennale Anak #1
Kaderisasi Jagat Seniman Rupa
Menjadi seniman rupa mungkin memang bukan pilihan yang menarik buat banyak orang. Tapi penting untuk perkembangan budaya bangsa. Perlu sebuah semangat besar untuk menumbuhkan minat sejak dini pada anak-anak agar tahu dan tertarik jadi perupa.
Selain dikenal sebagai kota pendidikan, tak salah jika Yogyakarta juga didaulat sebagai kota “nyeni”. Setelah usai pelaksanaan Biennale Jogja X-2009, Yogyakarta kembali menggelar event biennale yang lain, yakni Biennale Anak. Ratusan karya seni yang dibuat oleh anak-anak, dipamerkan dalam acara Biennale Anak 2010. Bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia itu akan berlangsung hingga Jumat (22/1).
Biennale Anak resmi dibuka oleh pelukis Kartika Affandi pada Jumat (15/1). Dalam sambutannya, anak maestro lukis Affandi ini mengatakan, “Anak-anak kini sudah lebih baik dan pandai dalam mengekspresikan seni. Untuk itu, anak-anak harus diberi kesempatan yang sama dengan orang dewasa dalam berkarya”. Acara dibuka dengan Karnaval Anak yang diikuti oleh 11 kelompok. Dengan aneka kostum serta beragam tema dan pergelaran kesenian tradisional, mereka menempuh rute dari TBY menuju Malioboro. Selain pameran karya anak, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kancil, pemutaran film anak, dan pentas kreasi. Ada juga berbagai pelatihan, mulai dari jurnalistik, membatik, melukis layang-layang, membuat boneka, dan sebagainya.
Direktur Biennale Anak Yuswantoro Adi mengatakan Biennale Anak ini dilakukan untuk memberikan pendidikan seni terhadap anak-anak. Menurut Yuswantoro, selama ini pendidikan seni kepada anak melalui lomba menggambar atau mewarnai masih berorientasi mendapatkan gelar juara. Padahal itu bukan hal yang menarik.
Yuswantoro juga menyatakan bahwa gawean seni ini masih digagas dan dibuat programnya oleh para seniman. Tapi pada proses-proses selanjutnya diharapkan akan mengalami perkembangan pengelolaan program yang melibatkan anak-anak. Sampai mereka sendiri nanti yang akhirnya menjalankan Biennale Anak ini. “Pada Biennale Anak I ini, memang masih ada intervensi pengaturan oleh panitia dewasa. Tapi tidak boleh ada intervensi pada karya seni anak-anak,” kata seniman lulusan ISI Yogyakarta ini dengan. Anak-anak juga akan dilibatkan sebagai pengatur acara atau juga MC acara. Selain itu, Yuswantoro Adi juga mengakui Biennale Anak ini adalah program coba-coba yang hati-hati. Panitia tidak ingin melakukan eksploitasi terhadap anak-anak karena batas antara eksploitasi dan bukan eksploitasi sangat tipis, seperti dikutip dari berbagai media.
Tak dapat dipungkiri, apa yang dilakukan oleh kalangan seniman rupa di Yogya ini seolah menjadi sebuah pesta yang menggembirakan bagi anak-anak. Mereka bisa bebas berekspresi dan bereksplorasi dengan seni rupa. Dunia seni rupa memang kurang populer di kalangan anak sehingga mereka tidak tahu dan menjadi tidak tertarik. Walhasil… jagat seni rupa Indonesia akan semakin sepi karena ditinggalkan oleh masyarakat. Anak-anak akan dengan bangga menjawab “Menjadi artis sinetron” atau “Ikut Indonesian Idol” dibandingkan dengan “Mau jadi pelukis” atau “Bikin patung seperti Pak edhi Sunarso”.
Memang selama ini banyak diadakan lomba yang berkaitan dengan karya seni bagi anak-anak. Mulai dari lomba menggambar, lomba mewarnai hingga lomba melukis namun berhenti sampai di situ. Setelah ramai-ramai selonjoran di lantai dan karya dikumpulkan, tinggal para juri dengan subyektifitasnya yang menilai dan selesai sudah. Tidak ada tanya jawab dengan seniman, tidak ada pameran dan karya yang dihasilkan pun cenderung seragam. Karena ada semacam indoktrinasi sepihak yang menyebutkan syarat-syarat bagusnya sebuah karya.
Anak-anak tidak pernah dibiarkan mengembangkan ekspresinya sendiri bahkan untuk sekadar menilai mana yang bagus menurut mereka. Akhirnya menjadi jelas mereka mengikuti lomba atau ikut dalam sanggar seni hanya untuk memenuhi ambisi dari orang tuanya. Maka tak heran jika kemudian tidak tumbuh ketertarikan pada dunia seni dan elan seniman dalam jiwa mereka.
Bersyukur di dunia desain grafis kini bertumbuhan fakultas DKV di berbagai universitas di Indonesia. Mungkin ceritanya agak berbeda, namun bisa jadi minat menggeluti dunia desain malah tumbuh sudah sejak dini. Jika kita perhatikan, pengaruh membaca komik membuat anak tertarik untuk membuat komik atau sekadar menggambar figur favorit mereka. Dari sinilah kemudian ketertarikan itu berkembang hingga ke dunia desain. Belum lagi pengaruh perkembangan teknologi yang menjadikan pekerjaan desain menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan.
Akhirnya memang butuh sebuah pola yang lebih membumi untuk mengenalkan dan mengakrabkan seni rupa bagi anak-anak. Disesuaikan dengan dunia mereka sehingga kemauan itu muncul dengan sendirinya dan membekas hingga mereka menentukan cita-cita yang akan mereka pilih kelak jika dewasa nanti. Biarkan mereka berkreasi sesuai dengan kapasitas mereka tanpa dibebani oleh pemahaman dan standar dari orang-orang tua.
Bukankah mereka lebih mengenal tokoh idola yang akan mereka lukis atau mereka buat sebagai boneka tanah. Perlahan dan pasti mereka akan berproses untuk menyempurnakan karya mereka sesuai standar keindahan mereka sendiri . Dan seharusnya bukan hanya Yogyakarta saja yang mengadakan Biennale anak. Toh anak Indonesia tak hanya ada di Yogyakarta. (Irw)
Indonesia Can Beat ACFTA
Sebulan yang lalu, tepatnya 12 Desember 2009, saya mendapat undangan dari Irvan No’eman untuk menghadiri Seminar Sehari Membaca Tren Global Musim Panas 2010 di Bandung. Di seminar ini saya mendapati seorang pakar tren, David Landart dari Carlin Internasional, dan Managing Director Surfer Girl Sarah Forbes, sebagai pembicara. Duduk di antara peserta seminar yang kebanyakan adalah mahasiswa ITB jurusan tekstil, saya berusaha mendengarkan baik-baik kedua pembicara itu.
Tidak bermaksud membandingkan, tapi saya harus jujur di sini bahwa semangat Sarah Forbes berbagi ilmu dari pengalamannya selama berkarier di Surfer Girl membuat saya terjaga dari kebosanan. Saya terkesan saat ia membandingkan tenaga kerja (baca: tenaga kreatif) Indonesia dan China. Saat itu pikiran saya langsung melayang ke isu ACFTA ( ASEAN-China Free Trade Area).
Saya akan membicarakan sedikit mengenai isu ini lebih dulu. ACFTA merupakan perjanjian antara negara-negara yang bergabung dalam ASEAN dengan China. Perjanjian ini menjamin bebas pajak bagi produksi barang atau jasa yang keluar masuk antara ASEAN dan China. Di Indonesia, ACFTA katanya bisa mengancam eksistensi sejumlah industri Indonesia alias kalah saing. Jadi tidak sedikit orang-orang yang peduli dengan industri Indonesia, termasuk pelaku bisnis sendiri, takut.
Kembali ke seminar. Sarah Forbes sepertinya mengetahui dan paham kekhawatiran Indonesia pada industri China yang merebut perhatian para investor. Belum lagi produk-produk made in China yang menjamur di pasar Indonesia. Meski begitu, Sarah justru mengangkat jempolnya untuk industri Indonesia, terlebih lagi sumber daya manusianya.
Ia menuturkan alasan mengapa ia salut pada industri dan SDM (sumber daya manusia) Indonesia. Pertama, industri Indonesia sudah mulai memenuhi syarat eco-friendly yang menjadi persyaratan yang diajukan oleh investor. Kedua, SDM di sini lebih kreatif dan orsinal. Namun di atas dua poin itu, komunikasi adalah poin utama. Selama pengalamannya menangani Surfer Girl, Sarah tidak menemukan masalah komunikasi dengan semua tenaga kreatif Surfer Girl yang notabene orang Indonesia karena mereka memiliki bahasa Inggris yang baik. Bagi Sarah ini penting sekali untuk menghindari miskomunikasi oleh sebab kendala bahasa. Sedangkan di China yang terjadi adalah kebalikan dari keunggulan yang Indonesia miliki. Apalagi industri China kini sedang mengalami tekanan dari investor asing agar peduli lingkungan. Situasi ini ke depannya akan memaksa China untuk menaikkan ongkos produksi. Menurut saya, Sarah secara implisit menyampaikan bahwa kualitas yang dimiliki SDM maupun industri Indonesia lebih baik.
Hubungannya dengan Desain Grafis Indonesia?
Baru-baru ini ADGI berhasil mengangkat derajat desain grafis Indonesia dengan meluncurkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang disetujui oleh pemerintah. Bukan suatu hal yang sulit untuk menetapkan standar bagi keahlian desain grafis karena tidak mengacu pada keterampilan desain semata. Seperti yang tercantum pada situs desain grafis Indonesia, secara garis besar kompetensi kerja seseorang dapat ditinjau dari kualitas mengerjakan tugas, kualitas mengorganisasikan pekerjaan hingga terlaksana dengan baik, kualitas mengantisipasi kondisi di luar rencana semula dan kualitas menggunakan kemampuan untuk memecahkan masalah.
Kualitas adalah titik berat dan perhatian besar dalam SKKNI: sejurus dengan apa yang Sarah Forbes maksud. Dengan mengedepankan kualitas yang baik, tidak ada seorang pun yang bisa meragukan pekerjaan dan profesionalitas seseorang. Apalagi kelak pasar global akan merajalela di Indonesia melalui kesepakatan-kesepakatan internasional, salah satunya adalah ACFTA itu sendiri. Jadi bisa dibilang SKKNI merupakan alarm untuk desain grafis Indonesia agar bangkit dan tampil lebih baik supaya tidak tenggelam oleh arus kondisi perdagangan bebas dalam lingkup internasional yang mendorong persaingan semakin ketat. Kuncinya satu: kualitas.
So Indonesia, of course, can beat ACFTA. But first of all, mind your English, please!
Berantas Korupsi dengan Sekaleng Cat
Seekor tikus tampak panik di tengah kepungan kaki bersepatu, kelihatannya tak ada jalan keluar bagi binatang pengerat ini untuk melarikan diri. Sementara muncul seruan untuk bersama-sama “menangkap tikus”.
Tunggu dulu, ini bukan folklor yang disajikan sebagai dongeng sebelum tidur. Tapi ini graffiti yang terdapat di kaki jembatan rel kereta api di bilangan Salemba, Jakarta Pusat. Dengan melihat sekilas saja kita dapat memahami bahwa yang dimaksudkan oleh sang pelukis adalah usaha memberantas korupsi. Tikus sebagai personifikasi dari koruptor digambarkan tak akan bisa lolos dari jerat hukum sepanjang dilakukan bersama-sama. Dengan latar warna merah terang membuat mural ini begitu menantang setiap orang yang lewat untuk memperhatikannya.
Tidak hanya di Salemba, masih banyak tiang-tiang jembatan lainnya yang berubah menjadi kanvas bagi para seniman jalanan dalam menuangkan ide. Entah, apa yang membuat saya merasa tertarik untuk menikmati gambar-gambar tanpa nama ini sepanjang perjalanan saya dalam rutinitas. Ada yang menarik dari karya seni ini, pembuatnya begitu jeli menuangkan ide tentang pemberantasan korupsi dalam bahasa grafis yang renyah. Sehingga mata saya tidak merasa lelah sebagaimana jika saya melihat coretan dinding bertuliskan nama sekolah atau geng jalanan yang dapat dengan mudah kita temukan di mana saja. Bahkan saya merasa lebih terpengaruh oleh gambar ini dibandingkan dengan iklan layanan masyarakat yang memuat hal yang sama.
Adalah Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta KPK) yang membuat lukisan dinding di Salemba dan enam titik lainnya di Jakarta. “Sebagai dukungan bagi pemberantasan korupsi,” ujar Irma, salahsatu pentolan komunitas ini pada media. Menurut Irma, pesan antikorupsi serta antikriminalisasi terhadap KPK dan aktivis antikorupsi akan terasa lebih mudah dipahami masyarakat umum jika dilukiskan melalui seni mural di ruang publik. Ketujuh lokasi yang mendapat sentuhan seni Komunitas Cicak adalah Jl. Pondok Indah Simpruk, di depan Masjid Al-Istiqqamah, Jakarta Selatan. Tiang-tiang pancang monorail di depan Pasar Festival, Jl. HR. Rasuda Said. Jakarta Selatan. Putaran Dukuh Atas, di bawah Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Pilar jembatan layang di perempatan Kuningan, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Pilar rel kereta api di lampu merah perempatan Bioskop Metropoole, Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat. Dinding Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Di depan Universitas Bung Karno. Pilar-pilar monorail di belakang Gedung DPR, Jl. Gelora, Jakarta Pusat.
Selain di Jakarta Komunitas Cicak beserta beberapa LSM juga mengkampanyekan anti korupsi di daerah lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) yang menyampaikan pesan antikorupsi kepada masyarakat.
KP2KKN yang juga tergabung dalam wadah Cicak bersama komunitas 12 pm yang merupakan gabungan mahasiswa Undip membuat mural di salah satu tembok di Jalan Hayam Wuruk. Karya mereka menggambarkan puluhan tikus yang bermetamorfosis menjadi buaya yang pada bagian mulutnya diikat tali oleh cicak. Menurut penuturan Sekretaris KP2KKN, Eko Haryanto yang dikutip dari media massa mural merupakan salah satu seni jalanan yang dapat menyampaikan pesan moral kepada masyarakat secara langsung. “Menyampaikan pesan antikorupsi kepada masyarakat tidak harus dengan cara yang serius, tapi hal tersebut bisa juga disampaikan dengan cara yang lebih santai, menarik, dan sederhana namun tetap mudah dimengerti,” ujarnya.
Tak jauh berbeda dengan Jakarta, Dalam mural yang didominasi warna hitam dan merah yang dibuat komunitas grafiti bernama 12 pm menggambarkan, tikus dan buaya merupakan simbol dari para koruptor yang terus merajalela saat ini dan masyarakat antikorupsi disimbolkan dengan cicak. Eko mengharapkan, pembuatan mural yang bertema antikorupsi seperti yang dilakukannya juga dilakukan masyarakat ataupun komunitas-komunitas mural yang ada di Jawa Tengah. “Mural yang kami buat ini sebagai contoh apakah mendapat respons positif dari masyarakat atau malah dirusak,” tambahnya. Kerja sama antara KP2KKN dengan komunitas 12 pm akan membuat mural dengan tema antikorupsi di sepuluh titik di Kota Semarang. Di antaranya di Jalan Siranda, Jalan Veteran, Jalan Pemuda, dan Jalan Tlogosari Semarang.
Upaya pemberantasan korupsi memang bisa dan harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk komunitas grafis. Lewat sekaleng cat semprot dan segudang ide kreatif seharusnya kita mampu menjadi “Jurkam” bagi suksesnya gerakan pemberantasan korupsi. Tenang saja, masih banyak bidang dinding kota yang bisa dijadikan sebagai media lukis dan masih banyak tikus yang layak dijadikan sebagai obyek, karena negeri ini punya banyak stok tikus kerah putih.